Mengenal Asal Usul dan Makna Ustaz

305
Penulis: Imam Muhlisin

Sering kali, kita menemukan sebuah kosa kata asing yang lazim digunakan dalam bahasa sehari-hari kita. Dan uniknya, kebanyakan di antara kita tidak tahu-menahu soal asal usul bahasa serapan tersebut.

Hal ini perlu dikaji kembali, khususnya bagi pemerhati bahasa, kalangan pelajar dan santri. Agar tahu secara detail sejarah ataupun makna asli dari kata tersebut.

Lafadz “Ustadz”, dikenal oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia, adalah kata yang berasal dari serapan bahasa Arab. Padahal jika ditelusuri secara detail sejarahnya, kata tersebut rupanya bukan berasal dari suku kata yang ada pada Kamus Bahasa Arab, baik secara bahasa maupun makna.

Lafadz “ustadz”, merupakan bahasa Ajam (klasik) Persia, yaitu “istad” yang artinya pengajar, tuan, atau orang tua.

Sebagaimana dikutip dari laman Al-Munawwar tentang pengertian dan asal-usul kata ustadz dalam kamus Arab Al-Mu’jamul Wasith disebutkan, kata “ustadz” (أُستاذ) memiliki beberapa makna:

Pengajar

1. Orang yang ahli dalam suatu bidang keindustrian dan mengajarkannya pada orang lain.

2. Gelar akademis level tinggi di universitas.

Istilah yang semakna dengan ustadz dalam arti pengajar, pendidik, atau pembimbing adalah murobbi, mu’allim, dan mu’addib.

Ustadz juga merupakan sebutan bagi orang yang ahli di bidang tertentu (pakar). Di negara Arab, istilah “ustadz” merujuk pada dosen atau ahli (akademisi) yang memiliki kepakaran di bidang tertentu.

Menurut Ustadz Ahmad Syarwat di situs resminya, Rumah Fiqih Indonesia, di negeri Arab istilah ustadz punya kedudukan sangat tinggi. Hanya para doktor (S-3) yang sudah mencapai gelar profesor yang berhak diberi gelar Al-Ustadz. Kira-kira artinya memang profesor di bidang ilmu agama.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan ustadz yang baku adalah ustaz (menggunakan huruf z). Bentuk tidak bakunya istaz, ustad, ustadz yang diartikan guru agama atau guru besar (laki-laki) tuan (sebutan atau sapaan)

Dari beberapa pengertian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa gelar ustadz bukanlah gelar yang sembarangan. Melainkan gelar kemuliaan bagi orang yang alim (ahli) dalam bidang ilmu tertentu. Lebih khusus dalam KBBI dijelaskan bahwa kata “ustadz” dimaknai sebagai guru agama.

Tentu jika kita mengacu pada KBBI, maka ustadz hanya akan bisa disematkan kepada orang yang ahli dalam agama. Seperti ahli fiqih, ahli Qur’an, mantiq dan lain sebagainya. Dan tentunya, jika disebut ahli maka ia memiliki sanad keilmuan yang jelas. Termasuk rekam jejak lembaga pendidikannya.

Jangan sampai, kita menyematkan gelar ustadz kepada seseorang hanya karena ia mampu berceramah dan menguraikan satu dua ayat dan hadits saja.

Bahkan yang paling parahnya, kata ustadz itu disematkan kepada orang yang baru belajar Islam (mualaf), hanya karena orang tersebut pernah mengisi ceramah agama atau bahkan hanya sekedar memberikan terstimoni jalan hidayahnya saja. Padahal baca Qur’annya belepotan dan ngomongnya pun ngalor ngidul.

Di era digital seperti saat ini, hampir semua telah tersedia, termasuk bahan untuk ceramah. Bisa jadi apa yang dikatakan oleh mereka hanya hasil googling atau nonton di YouTube saja.

Oleh karenanya, mari kita tingkatkan literasi agar tidak mudah tertipu dengan bayangan semu.

(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here