Coto Makassar dan Sekilas Sejarahnya

376

Masyarakat nusantara pasti pernah mendengar Coto Makassar, makanan tradisional khas asal Sulawesi Selatan. Sebagian besarnya juga pasti pernah mencicipi makanan yang dinilai mirip sup daging sapi ini.

Bagaimana tidak, sekarang ini Warung Coto Makassar mudah ditemukan, bukan hanya di daerah asalnya saja. Bahkan warung ini bisa kita dapati di pusat-pusat perbelanjaan, seperti mall.

Kelezatannya memang tak bisa dipungkiri. Sebab dihasilkan dari pencampuran 40 jenis bumbu lokal (rampa patang pulo). Yakni kacang, kemiri, cengkeh, pala, foeli, sereh yang ditumbuk halus, lengkuas, merica, bawang merah, bawang putih, jintan, ketumbar merah, ketumbar putih, jahe, laos, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, daun bawang, daun seledri, daun perei, lombok merah, lombok hijau, gula tala, asam, kayu manis, garam, pepaya muda untuk melembutkan daging, dan kapur untuk membersihkan jeroan.

Tapi saat membincangkan Coto Makassar, pasti banyak yang kurang mengetahui sejarah maupun asal usulnya. Makanya pada kesempatan ini Kami akan mengulik singkat tentangnya.

Saldy Irawan, dalam website resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan, menjelaskan bahwa konon katanya, makanan tradisional khas Makassar ini sudah ada sejak kerajaan Gowa, yang saat itu berpusat di Sombaopu sekitar tahun 1538 masehi, wilayah selatan kota Makassar.

Sementara dalam arsip pemerintah di Makassar, awal kemunculan hidangan kuliner khas ini juga mendapat pengaruh dari kuliner Cina yang telah ada saat itu, yakni berupa sambal tauco sebagai salah satu identitasnya.

Adapun Tribun Timur mencatat, dulunya makanan ini menjadi hidangan khusus bagi kalangan istana kerajaan Gowa. Ada juga yang menyebut bahwa coto Makassar diciptakan oleh rakyat jelata untuk disajikan kepada para pengawal kerajaan sebelum bertugas menjaga kerajaan di pagi harinya.

Meski demikian, sejak kemunculannya, hidangan ini memiliki saingan yakni Pallubasa, yang kala itu diperuntukkan bagi kelas pekerja seperti kuli bangunan, tukang becak, dan kelas pekerja lainnya.

(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here