Memori 15 Januari 2014: Banjir Bah Terparah Landa Manado

204
https://daerah.sindonews.com/

Notifikasi WhatsApp saya berbunyi. Setelah dikroscek, pesan masuk itu dari salah satu sahabat yang berprofesi wartawan media nasional.

“Minta pendapat kwa, tentang memori 15 januari 2014 silam,” tulis wartawan bertubuh gempal itu dalam pesan WhatsApp, Sabtu (15/1/2022) pukul 09.41 Wita.

Permintaan sang wartawan ini pun otomatis membuatku mengingat kembali peristiwa dahsyat, yang disebut-sebut sebagai banjir terparah sejak tahun 2000 hingga saat ini.

Saat itu, saya baru beberapa hari bertugas sebagai reporter pada media cetak yang berada di bawah naungan grup media nasional ternama di Indonesia.

Karena baru, semangatku juga otomatis masih berapi-api dalam mencari berita terbaik. Pun pada waktu naas itu. Hujan yang mengguyur Manado tak mengurungkan niatku untuk beraktivitas sejak pagi.

Seperti biasa, aku mengawali aktivitas dengan mandi pada sekira pukul 07.00. Namun, kaki belum sempat menginjak kamar mandi, aku mendapat teguran dari istri.

“Mau kemana? Coba lihat got ini. Sudah hampir penuh. Arus sungai juga begitu deras. Sebaiknya tak usah kemana-mana dulu,” kata istri, saat itu.

Maklum, jarak rumah di Ketang Baru dengan Sungai Tondano cukup dekat. Hanya sekira 75 meter saja. Dengan kata lain, rumah yang kutempati termasuk daerah rawan banjir.

Teguran itu awalnya tak kugubris. Tetap saja mandi sebagai persiapan untuk menjalankan tugas profesi. Ya, waktu itu semangat mengejar deadline sepertinya lebih besar daripada rasa kuatir akan kebanjiran.

Namun apa yang terjadi setelah itu membuatku kaget dan akhirnya panik. Air sungai meluap dengan cepat dan perlahan mulai menggenangi rumah-rumah penduduk.

Secara tergesa-gesa pula warga di kawasan itu mulai mengevakuasi barang-barang berharganya ke tempat yang dinilai lebih aman. Termasuk kami.

Sebagiannya diletakkan di loteng rumah, sebagiannya lagi dibawa ke tempat pengungsian. Kebetulan, saat itu SD Negeri 13 yang berlantai 2 jadi tempat mengungsi terdekat dan dinilai paling aman. Puluhan keluarga mengungsi di situ.

Kejadiannya begitu cepat. Ketinggian air terus meningkat. Hingga akhirnya sekira pukul 13.00 Wita, tinggi air sudah mencapai sekira 3 meter. Rumah-rumah tampak tenggelam.

Ketegangan makin terasa, manakala arus air banjir tampak menguat dan beberapa kali membuat pengungsi di SD Negeri 13 merasakan getarannya.

Sementara beberapa pria terlihat memilih berdiam di atas atap-atap rumah yang berlantai 2, sembari menantikan datangnya bantuan dari Tim SAR atau lembaga lainnya.

Para pengungsi mulai memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi, dan berupaya mencari solusi terbaik. Adapun yang lain hanya bisa berdoa dan berzikir untuk keselamatan semua orang.

(bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here