Bandung Lautan Api dan Sejarahnya

326
Bandung Lautan Api
https://www.mudabahagia.com/sejarah/

Kami yakin, pembaca pasti tahu bahkan hafal dengan lirik lagu “Halo-Halo Bandung”, buah karya Ismail Marzuki dan dipopulerkan grup band Cokelat.

Dalam lirik lagu tersebut, tertuang sebuah sejarah yang menyebutkan bahwa Bandung pernah menjadi kota lautan api, sebagai upaya mempertahankan kemerdekaan.

Peristiwa Bandung lautan api berawal dari kedatangan pasukan sekutu, beberapa pekan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 12 Oktober 1945.

Kedatangan mereka, seperti dijelaskan Mohammad Ully Purwasatria, melalui Peranan Sukanda Bratamanggala dan Sewaka di Bandung Utara dalam Mempertahankan Kemerdekaan Tahun 1945-1948 (2014), pada awalnya hanya untuk membebaskan tentara Sekutu dari tahanan Jepang.

Selain itu, pasukan sekutu juga sengaja datang untuk mengantisipasi aksi amuk massa warga Indonesia terhadap orang-orang yang pro Belanda. Sayang, Belanda justru memanfaatkan niat baik ini dengan memboncengi pasukan sekutu untuk kembali menguasai Indonesia.

Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia (2008), menyebutkan, ketika itu orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp-kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan.

Hal itu mengakibatkan terjadinya bentrok senjata antara Belanda dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Tuntutan dari sekutu agar masyarakat Indonesia melucuti senjatanya sendiri diabaikan. Bahkan TKR bersama laskar pejuang justru menyerang tempat kedudukan Inggris di Bandung Utara, termasuk markasnya di Hotel Savory Homann dan Hotel Preanger pada malam 24 November 1945.

Kolonel Mc Donald pun akhirnya menanggapi serangan TKR dengan memberikan sebuah ultimatum kepada pihak Indonesia melalui Gubernur Jawa Barat, Mr Datuk Djamin, pada 24 November 1945. Isinya, memerintahkan pengosongan Bandung Utara dari para penduduk dan milisi Indonesia, paling lambat 29 November 1945 pukul 12.00.

Ultimatum ini pun ditolak para milisi dan memilih bertahan di Bandung Utara. Bahkan mereka mendirikan pos-pos gerilya di berbagai tempat, sehingga terjadi pertempuran antara Indonesia dan sekutu di beberapa tempat, seperti Cihaurgeulis, Sukjadi, Pasir Kaliki, dan Viaduct selama bulan Desember, dan berlangsung hingga Maret 1946.

Pada 17 Maret 1946, Panglima Tertinggi AFNEI di Jakarta, Letnan Jenderal Montagu Stopford mengeluarkan ultimatum kedua yang memperingatkan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri RI, untuk memerintahkan militernya mundur dari pusat kota Bandung Selatan sampai radius 11 kilometer.

Ultimatum kedua ini pun ditindaklanjuti Tentara Rakyat Indonesia (TRI) di bawah pimpinan Kolonel AH Nasution, dengan membumi hanguskan kota Bandung, pada 24 Maret 1946. Rakyat diungsikan dengan gelombang terbesar bergerak melalui rel kereta api ke selatan sejauh 11 kilometer.

Warga juga mulai membakar rumah yang ditinggalkan. Di samping itu, pasukan TRI memiliki rencana yang lebih besar dengan membakar total pada pukul 24.00. Akan tetapi, rencana ini tidak berjalan lancar karena pada pukul 20.00, dinamit pertama telah meledak di Gedung Indische Retaurant. Pasukan TRI pun akhirnya melanjutkan aksinya dengan meledakkan gedung-gedung dan membakar rumah warga di Bandung Utara. Peristiwa ini yang kemudian dikenal oleh masyarakat Indonesia hingga kini sebagai Bandung Lautan Api.

(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here