Menjawab Perdebatan Adanya “Multiverse” Perspektif Islam

386
Hikam Hulwanullah

Sebagainya hadits Rasulullah SAW,

اَلإيمَانُ يَزيدُ ويَنقُصُ ، يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

“Iman itu sifatnya dinamis, dapat bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan kepada Allah atau menjalankan perintahnya, dan berkurang karena melakukan kemaksiatan.”

Sebulan penuh kita telah menjalani ibadah puasa dengan penuh suka cita. Tak hanya sekedar karena kehadiran Ramadhan sebagai bulan yang istimewa dengan dilipatgandakannya pahala saja, namun sebagai madrasatul hayat atau sekolah kehidupan juga. Yakni, sekolah yang mendidik seorang muslim untuk menjadi mukmin dan seorang mukmin menjadi muslim.

Semua mereka yang berpuasa mulai dari kaum rakyat hingga pejabat, dari petani hingga bupati, dari penjual ikan teri hingga menteri. Mau dia di desa ataupun kota, mau yang kerja di kantoran ataupun persawahan, yang berdasi ataupun yang mengantarkan makanan dengan aplikasi, semuanya berharap agar selepas Ramadhan. kita dapat terbiasa dengan hal-hal baik yang sudah kita lakukan selama bulan suci ini, dan tetap dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya hingga Ramadhan berjumpa lagi.

Bagaikan obat, Semua ibadah di bulan Ramadhan yang kita lakukan tentu harus memiliki efek dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa demikian? Karena status kita sebagai manusia mengharuskan untuk menjalin hubungan yang baik kepada Allah secara vertikal dan juga kepada manusia sekaligus secara horizontal.

Hubungan baik saja kepada Allah dengan menjalankan ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, belum cukup atau bahkan bisa sia-sia jika kita masih belum bisa menjalin hubungan baik kepada sesama manusia.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

Artinya: Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturrahim (HR al-Bukhari)

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 1 Allah SWT juga berfirman:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْ

Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan kalian dengan sesama manusia.”

Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan hambanya untuk bertakwa kepada-Nya, yang kemudian diikuti dengan perintah memperbaiki hubungan sesama manusia, yaitu menjalin cinta kasih dan memperkokoh kesatuan.

Hari ini, tak bisa kita pungkiri bahwa apa-apa saja yang ditonton biasanya akan menjadi sebuah tuntunan (lifestyle), banyak cuplikan, animasi, per-filiman hari ini beredar, bergentayangan, dan berlomba-lomba mempertontonkan cerita dengan muatan-muatan konsep yang kadang tidak sesuai dengan keimanan. Maka benar nasehat orang tua-orang tua kita dulu tentang berhati-hati dengan apa yang kita tonton karena tontonan adalah tuntunan, apalagi di tengah fenomena yang viral belakangan ini, seperti film-film yang menunjukkan keberadaan teori Multiverse, sebut saja Edge of Tomorrow, SpiderMan hingga Doctor Strange Marvel yang baru dirilis kamis kemarin.

Sebuah teori yang sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu yang dikenal dengan istilah M-Theory oleh Stephen Hawking (seorang fisikawan kosmologis berpimikiran Atheis berdarah inggris).

Dalam teori multiverse ini, terdapat dua perdebatan akbar/besar, pertama terkait kelahiran alam semesta yang Tuhan tidak ikut campur di dalamnya, dan ke dua perdebatan terkait adanya kehidupan di planet lain maupun di alam semesta yang lain.

Menurut MTheory, alam semesta kita bukanlah satu-satunya alam semesta yang ada. Sebaliknya, justru teori ini memprediksikan bahwa terdapat banyak sekali alam semesta yang muncul dari ketiadaan yang masing-masing di antaranya memiliki seperangkat hukum-hukum fisika berbeda dan memiliki sejarahnya sendiri-sendiri, yang lebih kontroversial lagi teori ini menjelaskan semua jagat raya ada dengan spontan.

Kondisi ini menihilkan dan menisbihkan campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta. Di dalam bukunya Stephen Hawking menulis dengan jelas “Penciptaan alam-alam semesta itu tak memerlukan campur tangan sosok adil-alami atau Tuhan. Sebaliknya, banyak alam semesta muncul secara alami akibat hukum-hukum fisika dan kemunculan alam semesta adalah prediksi sains.” Pertanyaannya, Lantas bagaimana perdebatan Multiverse ini dalam Islam?

Pertama, Islam tidaklah menentang Ilmu, dan begitupun ilmu tidaklah bertentangan dengan Islam, karena Science without religion is bland, and religion without science is lame “Ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu pincang”.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Dr. Abdurrazaq Naufal dalam buku Baina Dien wa Ilmi (Antara Ilmu dan Agama) bahwa Ilmu dan Agama adalah suatu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Ada beberapa hal yang sama terkait konsep awal mula penciptaan alam semesta secara science yang popular abad belakangan dengan Al’quran, adalah Alam Semesta yang diciptakan berawal dari ledakan besar (supernova) dari dua awan panas yang bertemu, ini kita kenal dengan Teori Big bang, Penciptaan alam semesta dengan kejadian Big Bang ini dalam sains dibuktikan dengan adanya penemuan pengembangan alam semesta oleh Edwin Hubble pada tahun 1929. Dengan menganalisis spektrum cahaya dari galaksi.

Padahal jauh sebelum ada teori ini, Al Quran telah menjelaskan dalam Q.S Fussilat: 11

ثُمَّ اسْتَوٰىٓ اِلَى السَّمَاۤءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْاَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًاۗ قَالَتَآ اَتَيْنَا طَاۤىِٕعِيْنَ

Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.”

Begitupun di dalam Q.S. al Anbiya: 30, Allah berfirman:

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”

Namun yang menjadi persimpangan besar antara teori ini dan Alqur’an adalah ketika menihilkan bahwa Allah-lah zat yang menciptakan apa-apa yang ada di langit dan di bumi.

Sejatinya, pendapat tentang alam semesta yang terjadi dengan sendirinya telah dibantah dan diluluh lantahkan jauh hari oleh Newton yang pendapatnya juga dikutip Stephen Hawking dalam menciptakan teori Multiverse, bahwa kompleksitas zat, molekul, dan partikel di alam semesta yang tersusun secara koheren tidak lahir dari sebuah kebetulan, tapi oleh suatu zat yang lebih kompleks itu sendiri.

وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ

Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya.(Q.S. Az-Zariyat: 60)

Terkait dengan multiverse, Allah telah berfirman jauh dalam Q.S. at-Thalaq:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ࣖ

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS at-Thalaq: 12)”

Informasi sentral yang dikemukakan dalam surat at-Talâq ayat 12 adalah jenis materi (al-`Ard) sama dengan jumlah jenis ruang alam (as-samâ`) yakni tujuh. Informasi lain yang disajikan, yakni tentang undang-undang yang ditetapkan Allah berlaku pada ketujuh ruang alam (as-samâ`) dan ketujuh materi (al-`ard). Hal ini menginformasikan bahwa tiada sesuatupun yang terlepas dari peraturan atau undang-undang yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Di dalam buku “Penciptaan Bumi dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains (Tafsir Ilmi)” oleh Kementrian Agama RI tahun 2012. Tujuh langit berlapis-lapis (sab’a samawât) atau bertingkat-tingkat pada ayat ini bukanlah sekedar bermakna lapisan-lapisan langit. Tujuh langit bermakna jumlah yang sangat banyak, tak terhingga. Benda-benda langit di jagat raya, berlapis-lapis atau bertingkat-tingkat bermakna jaraknya yang berbeda-beda, ada yang dekat (masih di lingkungan bumi dan tata surya, termasuk atmosfer bumi) dan ada yang jauh.

Semua nampak sederhana, namun Allah menunjukkan kekuasaannya yang luar biasa. Kemudian pada ayat “wa min al- `ardi milahunna”, Quraish Shihab (dalam tafsir al-misbah Vol.14: 308) memahaminya bahwa bilangan bumi seperti bilangan langit yang tujuh. Yakni sebagaimana Allah yang telah menciptakan langit yang tujuh itu, seperti itu juga Allah yang menciptakan bumi ini, yakni dalam tujuh bilangan. Sebagaimana pemahaman tujuh langit dengan makna langit yang banyak di atas, maka bisa jadi, bilangan tujuh bumi di atas menyiratkan makna akan adanya “banyak” bumi yang terdapat di semesta ini.

Ayat diatas, menyiratkan akan adanya multiverse, multisemesta, atau banyaknya alam semesta. Tiap-tiap langit dan bumi, memiliki seperangkat hukum alam dan aturan-aturan yang telah diciptakan oleh Allah. Dalam beberapa kasus, bisa jadi perangkat hukum dan aturan di tiap langit dan bumi (universe) tersebut berbeda.

Jika menilik dari sudut pandang terminologi, bahwa istilah alam semesta dalam Al-Qur`an terekam dalam kata as-samâ` wa al-`ard atau as-samawât wa al-`ard. Dengan demikian, penyebutan sab’a samawât yang kemudian diikuti dengan wa min al-`ardi milahunna, dapat bermakna sebagai banyaknya alam semesta.

Namun, kita harus mengimani dengan sadar dan sepenuh hati bahwa Allah-lah zat yang menciptakan langit dan bumi, zat yang memberi kehidupan, zat yang memulai dan mengakhiri, terlepas apakah di luar sana betul atau tidak terdapat alam semesta yang lain. Wallahu a’lam bishowab.

Harapannya kita dapat membentengi diri dari pemikiran-pemikiran seperti ini, dan sekedar menjadikan apa yang kita tonton hanya sebatas tontonan, dan semoga tontonan yang sering kita tonton, yang anak-anak dan adik-adik kita tonton menjadi tontonan yang berkontribusi meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bukan sebaliknya malah mengkerdilkan dan mereduksi upaya kita untuk semakin meneguhkan keyakinan akan kemahakuasaan Allah swt, lebih-lebih diperjalanan setelah ramadhan ini untuk membekali diri di bulan-bulan selanjutnya. Amin.

(***)

Penulis adalah Master of Law Student at the Melbourne University, Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here