Perupa Sulut, dari Kunjungan Studio hingga Sketsa Bersama di Makam Sam Ratulangi

223

Kamis, 19 Mei 2022, sebanyak 26 orang peserta pameran gambar “Wale Ne Pinaesaan” melakukan kunjungan luar Pameran.

Dengan mengendarai bus, para peserta berangkat dari Manado menuju Tomohon, rumah perupa perempuan Senior Maria Budiyatmi di daerah Matani, Tomohon. Di rumah yang asri itu, terdapat puluhan bahkan ratusan karya yang terpajang.

Dari Tomohon, para perupa kemudian bergerak menuju Jurusan Seni Rupa Unima di Tonsaru, Tondano. Sebuah pameran gambar dalam rangka bulan menggambar Nasional juga terhelat di sana. Sejumlah karya dari puluhan mahasiswa dan dosen tergantung di panel pameran.

Setelah menikmati karya dan berdiskusi antarseniman, para perupa peserta pameran bersama mahasiswa seni rupa Unima kemudian melanjutkan perjalanan menuju kawasan rumah Altje Wantania, seorang perupa perempuan asal Tondano yang karya-karyanya telah mencapai lebih dari 1000 karya kertas dan kanvas. Altje adalah seorang perupa dan juga penyair perempuan Minahasa.

Dari rumah Altje yang berdekatan dengan kawasan terminal Tondano, para perupa kemudian menuju kompleks Makam Pahlawan Nasional GSSJ Ratulangi yang juga dikenal sebagai Sam Ratulangi.

Di kawasan makam ini, para perupa kemudian melakukan sketsa bersama, merekam kondisi sekeliling yang terlihat lengang namun tetap asri.

Sejumlah relief yang menceritakan perjuangan Sam Ratulangi terpampang di dinding samping tangga menuju sebuah lapangan beton luas.

Di ujungnya berdiri dengan megah monumen dan patung Kepala Sam Ratulangi. Patung Kepala Sam Ratulangi adalah karya dari Pematung asal Minahasa Jan Talangi Mingkid, utusan Budayawan Ch. Taulu agar sekolah di ASRI Jogja.

Patung ini adalah hadiah Pemerintah Pusat Presiden RI Sukarno khusus bagi rakyat Sulut terutama untuk membujuk hati akibat luka-luka hati gejolak sikon politik PERMESTA.

Hadiah ini dibawa langsung dengan kapal barang masih dalam bentuk cor blok, yang kemudian dipahat Mingkid.

Patung ini merupakan obat penawar hati Sulut yang berbentuk pengakuan terhadap ketokohan ekpert SAMRAT yang disinyalir menggetarkan banyak kalangan ekspert lainnya termasuk figur Sukarno sendiri.

Situasi dan kondisi politik masa itu menyebabkan Sulut sedikit merasa diperhatikan atas ketidak adilan masa tersebut.

Mingkid merupakan salah satu artis favorit Sukarno, yang tergabung dalam Tim Seniman megaproyek Sukarno di seputaran Bundaram HI pimpinan Kajur/Dekan Edhi Sunarso Cs.

Suasana sore, dengan kawasan yang dikelilingi pepohonan hijau, semakin membuat para perupa asyik dengan goresannya.

Kunjungan luar pameran itu berakhir dengan kunjungan ke studio Benjamin Suryo Pambudi yang berdekatan dengan Rumah Sakit Sam Ratulangi Tondano.

(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here