RajaOpera,Manado — Suasana khidmat menyelimuti Istana Negara, Jakarta, ketika Presiden Prabowo Subianto secara langsung menganugerahkan tanda kehormatan negara kepada sejumlah ulama besar yang dinilai memiliki jasa luar biasa dalam menjaga persatuan bangsa, memperkuat dakwah Islam, serta membimbing umat di berbagai daerah.
Penganugerahan yang berlangsung dalam rangka peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia itu menjadi salah satu momen paling bersejarah, karena negara memberikan penghormatan tertinggi bagi tokoh-tokoh agama yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk kepentingan bangsa dan umat.
Ulama Sebagai Cahaya Bangsa
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa para ulama adalah pilar moral bangsa yang kontribusinya tidak pernah lekang oleh waktu.
“Para ulama adalah cahaya bangsa. Mereka telah berjuang tanpa pamrih, mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan hidupnya demi menjaga persatuan Indonesia. Sudah sepantasnya negara memberi penghormatan setinggi-tingginya,” ujar Prabowo dengan suara bergetar.
Para ulama yang menerima penghargaan dikenal luas sebagai tokoh kharismatik dengan peran besar dalam bidang pendidikan Islam, perjuangan sosial, penguatan persaudaraan, serta pengayoman umat. Kehadiran mereka, baik semasa hidup maupun melalui warisan pemikiran dan keteladanan, menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Indonesia.
Daftar Ulama Penerima Tanda Kehormatan
Sejumlah nama besar yang mendapatkan penghargaan antara lain:
1. KH Miftachul Akhyar – Rais ‘Aam PBNU sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).
2. Haedar Nashir – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
3. Almarhum KH Yusuf Hasyim – Tokoh Nahdlatul Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
4. Almarhum KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) – Pengasuh Pesantren Al-Anwar, tokoh NU yang dikenal sebagai guru bangsa.
5. Almarhum KH Abdullah Abbas – Pengasuh Pesantren Buntet, Cirebon, pejuang pendidikan Islam.
6. KH Anwar Iskandar – Tokoh NU sekaligus Dewan Pertimbangan MUI.
7. KH Asep Saifuddin Chalim – Tokoh pendidikan dan penggerak sosial yang berakar kuat dalam tradisi NU.
Mereka yang telah wafat diwakili oleh keluarga atau ahli waris masing-masing. Saat nama-nama besar itu disebut, suasana haru tak terbendung, air mata mengalir dari sebagian keluarga yang hadir, menandai besarnya penghormatan negara atas jasa para ulama.
Lebih dari Sekadar Penghargaan
Penganugerahan tanda kehormatan ini didasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 73, 74, 75, 76, 77, dan 78/TK Tahun 2025. Total ada 117 tokoh yang mendapat tanda kehormatan dari Presiden Prabowo tahun ini, terdiri dari berbagai latar belakang: menteri, pimpinan lembaga negara, ketua umum partai politik, purnawirawan TNI, pengusaha, hingga seniman dan penyanyi.
Jenis tanda kehormatan yang diberikan mencakup Bintang Utama, Bintang Mahaputera Adipurna, Bintang Mahaputera Utama, Bintang Mahaputera Pratama, Bintang Jasa Utama, Bintang Budaya Paramadharma, Bintang Kemanusiaan, hingga Bintang Sakti.
Namun, khusus bagi para ulama, penghargaan ini dinilai memiliki makna yang lebih mendalam. Negara ingin menegaskan bahwa peran spiritual dan moral sama pentingnya dengan kontribusi di bidang politik, ekonomi, maupun pertahanan.
Teladan Bagi Generasi Muda
Pemerintah berharap, penghargaan ini dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi muda Indonesia untuk meneruskan perjuangan para ulama dalam menjaga persatuan, moderasi, dan kerukunan umat beragama.
“Ulama telah mewariskan nilai luhur, keikhlasan, dan keteladanan. Kita berharap generasi muda bisa meneruskan semangat juang itu, agar Indonesia tetap kokoh dalam bingkai persatuan,” tandas Presiden Prabowo.
Seiring dengan itu, gema doa dan rasa syukur pun bergema di Istana Negara. Penganugerahan tanda kehormatan kepada para ulama menjadi penegasan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menghargai jasa-jasa pejuangnya, baik di medan perang, panggung politik, maupun di jalan dakwah yang sunyi.


Komentar