Proses pembangunan Rumah Tahfidz Al-Qur’an (RTQ) Ahsanul Kalam oleh Senator DPD RI Hi Djafar Alkatiri, yang diresmikan pada Selasa (14/9/2021) sore, layak menjadi bahan renungan dan inspirasi bagi umat Islam, khususnya yang ada di Sulawesi Utara. Banyak pelajaran yang bisa diambil darinya.
Bangunan tiga lantai yang berada di Kelurahan Maasing Lingkungan III milik sang senator, sebenarnya akan difungsikan sebagai tempat kos. Hal itu diutarakan Alkatiri sejak sekian lama.
Artinya, pada awalnya tak sedikitpun terlintas di benak mantan Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) ini untuk memanfaatkan bangunan tersebut sebagai RTQ.
Sebagaimana diungkapkan singa podium ini beberapa waktu lalu, ide menjadikannya sebagai RTQ justru muncul dari anaknya, saat menjelang lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah.
Djafar menuturkan, saat itu anak keduanya, Mirzafani Alkatiri, libur. Sehingga dia pulang ke Manado. Setibanya di Bandara Sam Ratulangi, Djafar langsung mengajak Mirza ke bangunan yang rencananya dijadikan tempat kos.
Kata Djafar, saat itu Mirza diajak berkeliling untuk melihat satu persatu ruang kamar, hingga akhirnya mereka berada di lantai teratas. Di situlah, lanjut Djafar, Mirza menyampaikan ide dan masukannya.
Mirza mengusulkan agar tempat yang dibangun dengan anggaran Rp 1 miliar tersebut tak perlu dijadikan kos-kosan, tapi jadikan saja sebagai RTQ. “Abi (sapaan akrab Mirza untuk ayahnya) mau apalagi, kebutuhan sudah tercukupi,” tutur Djafar, meniru pernyataan anaknya.
Masukan brilian dari anaknya pun membuat Djafar terdiam dan menangis. Perkataan anaknya itu, aku Djafar, terngiang terus di telinganya selama satu malam. Sehingga besok paginya dia dengan yakinnya mengiyakan permintaan Mirza dan membatalkan rencana kos-kosan.
Djafar pun langsung bergerak cepat mencari solusi agar RTQ bisa segera terealisasi. Mulai dari pendirian yayasan, pengurusan izin di Kemenag, hingga seleksi calon santri.
Makanya, Ketua Umum KB PII Sulawesi Utara ini sangat bersyukur karena proses pendirian RTQ mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak, sehingga cita-citanya bersama anak-anaknya bisa terealisasi.
Djafar juga menegaskan, upaya mencetak generasi Qur’ani tidak akan berhenti. Ke depan, dia akan membangun sebuah ma’had untuk para hafiz putra, di sebidang tanah miliknya yang ada di Pandu.
Kisah ini memuat beberapa pelajaran penting dalam mengarungi kehidupan. Di antaranya adalah bahwa hati manusia bisa dengan mudah dibolak-balikkan Allah, Tuhan Yang Maha Berkehendak. Sehingga setiap muslim wajib memanfaatkan momen-momen kebaikan secara maksimal dan terukur sebagaimana kemampuannya.
Pelajaran lain dari kisah ini adalah bahwa hubungan antara orang tua dan anak, khususnya yang sudah berusia matang, harus didasarkan atas prinsip saling menghormati dan menghargai. Seorang singa podium yang dikenal sangat berani ini menghargai ide brilian anaknya karena menilainya sebagai sebuah kebaikan.
Kami yakin, pandangan tentang kisah ini cukup beragam. Dan kami hanya mengulasnya sesuai dengan kadar pemikiran yang dimiliki.
(***)


Komentar