RajaOpera, Manado – Kepanikan sempat melanda warga di wilayah Kepulauan Sangihe dan Talaud, Sulawesi Utara, setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang kawasan tersebut pada Jumat pagi (10/10/2025). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa gempa berpotensi menimbulkan tsunami dan telah memicu kenaikan muka air laut di sejumlah titik.
Data BMKG mencatat, tsunami dengan tinggi gelombang 0,16 meter terdeteksi di Sangihe pada pukul 09.29 WIB, 0,1 meter di Morotai pada pukul 09.46 WIB, dan 0,05 meter di Halmahera Barat pada pukul 09.42 WIB. Meski relatif kecil, BMKG menegaskan agar masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan adanya gelombang susulan.
“Gempa Mag: 7,6,” tulis BMKG melalui akun resmi X (Twitter), seraya mengingatkan masyarakat agar tidak mempercayai isu atau informasi palsu yang beredar di media sosial.
Gempa yang berpusat di laut pada koordinat 7,34 derajat Lintang Utara dan 126,87 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 56 kilometer itu dirasakan kuat di Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, hingga ke sejumlah daerah di Sulawesi Utara, bahkan sebagian wilayah Papua. Guncangan hebat tersebut membuat banyak warga berlarian ke tempat tinggi untuk menyelamatkan diri.
BMKG segera mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Papua. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan langkah antisipatif di daerah yang berpotensi terdampak.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan atau korban jiwa. Tim BPBD Sulawesi Utara bersama aparat TNI-Polri masih melakukan pemantauan dan pendataan di lapangan.
Masyarakat diminta tetap tenang, namun terus memantau informasi resmi dari BMKG dan instansi berwenang. Warga di pesisir diminta menjauhi pantai sampai adanya pernyataan aman dari pihak berwenang.
Editor : Jendri Frans Mamahit


Komentar