Raja Opera,Manado –Sejarah bangsa Indonesia tidak hanya ditorehkan oleh para pahlawan yang gugur di medan juang, tetapi juga oleh air mata para ibu yang merelakan anaknya pergi demi bangsa. Kisah Maria Elizabeth Cornet Tendean adalah salah satu bukti nyata: cinta seorang ibu yang tak lekang oleh waktu, terikat erat pada putra kesayangannya, Letnan Dua Pierre Andries Tendean, sang Pahlawan Revolusi.
Di balik wajah gagah dan jiwa patriotik Pierre, tersimpan doa-doa seorang ibu yang selalu ingin melindungi. Maria Elizabeth, yang menginginkan anaknya hidup aman sebagai seorang insinyur, akhirnya harus ikhlas ketika Pierre memilih jalan hidup sebagai prajurit. Namun, restu itu justru berakhir pada perpisahan abadi setelah tragedi G30S 1965.

Air mata Maria Elizabeth menjadi saksi bisu cinta seorang ibu yang tak pernah padam. Malam demi malam, ia berbicara dengan foto-foto Pierre, seakan berharap sang putra kembali dari keheningan. Ziarahnya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata selalu penuh tangis rindu, bahkan ia memilih datang di malam hari agar tak ada yang melihat rapuhnya seorang ibu pahlawan.
Hingga ajal menjemput pada Agustus 1967, Maria Elizabeth tetap menyimpan kerinduan yang tak pernah terbalaskan. Ia pergi dengan damai, berselimut kain yang pernah dipakai Pierre, seakan ingin bersama putranya untuk selamanya.
Kisah ini adalah pengingat bagi bangsa: di balik setiap pahlawan, ada cinta seorang ibu yang berkorban, ada air mata yang tak pernah kering. Pierre Tendean mungkin gugur sebagai pahlawan, tetapi Maria Elizabeth pun layak dikenang sebagai simbol cinta abadi seorang ibu yang rela mengorbankan segalanya.
Indonesia.com


Komentar