RajaOpera, Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru saja menyampaikan kabar yang dianggap menyejukkan: inflasi Indonesia berada di angka 2,31 persen dan disebut dalam kondisi “Goldilocks”. Artinya, inflasi kita tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, “just right”, pas seperti bubur dalam kisah dongeng Goldilocks and the Three Bears.
Tapi, apakah ekonomi benar bisa berjalan dengan mulus hanya dengan dongeng manis?
Purbaya menekankan tiga hal: stabilitas harga pangan melalui intervensi pemerintah dan Bulog, bantuan beras serta minyak goreng di akhir 2025, serta daya beli masyarakat yang dianggap masih resilien. Semua terdengar menjanjikan, apalagi rakyat paling sensitif soal isi perut dan harga energi.
Namun, sejarah mengajarkan kita: kondisi Goldilocks itu tidak abadi. Alan Greenspan, “Sang Maestro” bank sentral Amerika Serikat, pernah merasakan euforia yang sama di era 1990-an. Ekonomi AS kala itu seperti “surgawi”: pertumbuhan kerja tinggi, upah naik, inflasi rendah. Tetapi, cerita indah itu runtuh di awal 2000-an bersama pecahnya gelembung dot-com, lalu disusul krisis finansial 2008.
Indonesia tentu tidak ingin mengulang kisah itu.
Kuncinya ada di dua hal mendasar: pangan dan energi. Disiplin inflasi era Presiden Jokowi dan Mendagri Tito Karnavian dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) membuktikan, koordinasi data stok pangan antar daerah, intervensi pasar lewat APBD, hingga strategi jangka panjang berupa penguatan infrastruktur pertanian adalah fondasi kokoh pengendalian inflasi. Tanpa itu, dongeng Goldilocks bisa cepat berubah jadi mimpi buruk.
Pertanyaannya, apakah pemerintah saat ini mampu menjaga momentum? Inflasi 2,31% memang membuat kita tersenyum, tapi ekonomi adalah siklus: ada masa naik, ada masa jatuh. Apakah Kemenkeu siap membaca titik balik (inflection point) dan mengantisipasi badai berikutnya?
Dongeng Goldilocks memang manis, tapi rakyat butuh jaminan nyata bahwa harga cabai, beras, dan ayam tidak berubah jadi monster inflasi. Karena pada akhirnya, yang paling menentukan bukanlah dongeng, melainkan kebijakan yang konsisten, data yang akurat, dan kesiapan menghadapi sejarah yang berulang.


Komentar