Berita Opini
Home » Berita » Tantangan Berat Dirut Baru RS Kandou Manado: Bullying Residen, Pelayanan Buruk, hingga Kasus Kematian Pasien

Tantangan Berat Dirut Baru RS Kandou Manado: Bullying Residen, Pelayanan Buruk, hingga Kasus Kematian Pasien

ROC, Manado – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Dr. R. D. Kandou Manado kini berada di bawah kepemimpinan baru. Prof. Dr. dr. Starry Homenta Rampengan, Sp.JP(K), FIHA, FICA, FACC, FAHA, FESC, FAPSIC, MARS, resmi dilantik oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai Direktur Utama rumah sakit vertikal andalan Sulawesi Utara ini. Namun, di balik prosesi pelantikan tersebut, Prof. Starry dihadapkan pada tumpukan tantangan pelik yang harus segera diselesaikan.

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling menerima Direktur utama RS Kandou Prof. dr Starry Rampengan di Wisma Negara.

Salah satu sorotan utama adalah dibukanya kembali program residensi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Penyakit Dalam yang sempat ditangguhkan. Program yang berada di bawah Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) itu kembali beroperasi di RS Kandou, setelah berbagai kritik keras mencuat terkait lingkungan pendidikan yang tidak sehat, termasuk kasus perundungan (bullying) terhadap para residen.

 

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, dr. Azhar Jaya, menegaskan bahwa pembukaan kembali program PPDS ini menjadi langkah awal menuju sistem pendidikan kedokteran yang sehat, profesional, dan bebas intimidasi. Ia juga menegaskan bahwa meski sistem sudah dijalankan, potensi terjadinya perundungan masih ada dan pengawasan ketat akan terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Kemenkes.

 

Skandal Rp28 Miliar Terkuak! BNI Bergerak Cepat Kembalikan Dana Nasabah Aek Nabara, Pelaku Sudah Dibekuk!

“Kalau laporan bullying masih tinggi, kami dari pusat akan melakukan audit lagi,” tegas Azhar.

 

Namun, bukan hanya masalah pendidikan yang menjadi sorotan. RS Kandou juga tengah berada di bawah tekanan publik menyusul kasus kematian seorang pasien bernama Gabriel Sineleyan. Gabriel meninggal dunia setelah hampir dua bulan dirawat tanpa mendapatkan penanganan medis maksimal, diduga karena minimnya alat medis di rumah sakit tersebut. Kasus ini memicu reaksi keras dari masyarakat dan mendapat perhatian langsung dari DPRD Sulawesi Utara.

 

Wakil Ketua DPRD Sulut, Stela Runtuwene, menyampaikan kekecewaannya terhadap sistem pelayanan di RSUP Kandou. Ia menyebut SOP rumah sakit tidak jelas, dan terdapat indikasi saling lempar tanggung jawab dalam menangani kasus Gabriel.

KUBUR KOSONG Menandai Bukti Yesus Bangkit!!! Ibadah Paskah GMIM Kristus Bitung Tegaskan: Kristus Bangkit, Iman Tak Tergoyahkan!

 

“Dari penanganan pasien itu sendiri sudah terlihat, apa yang terjadi pada alm Gabriel yang saling lempar tanggung jawab. Manajemen RSUP Kandou harus dibenahi,” kata Stela dalam rapat lintas komisi.

Jajaran Direksi RS. Kandou yang baru saat dilantik.

Kini, Prof. Starry yang dikenal sebagai dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dengan segudang gelar dan pengalaman, memikul beban besar untuk mengubah wajah RS Kandou. Ia tak hanya harus membenahi sistem pendidikan dokter spesialis yang sempat tercoreng, tetapi juga harus mengembalikan kepercayaan publik terhadap kualitas layanan rumah sakit.

 

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya menyampaikan bahwa rumah sakit vertikal seperti RS Kandou harus menjadi pelopor perubahan dalam sistem kesehatan nasional. Ia menekankan bahwa direksi baru harus menunjukkan kepemimpinan yang transformatif dan menghadirkan pelayanan yang berorientasi pada pasien.

GEMPA GUNCANG SULUT! Ketua PMI Dampingi Kepala BNPB Turun Langsung, Posko Siaga Bencana Resmi Diaktifkan

 

“Direksi yang baru harus mampu menghadirkan perubahan nyata, mengutamakan pelayanan yang berorientasi pada pasien, dan meningkatkan mutu secara berkelanjutan,” tegas Menkes Budi.

 

Tantangan yang dihadapi Prof. Starry tidak main-main. Ia diharapkan mampu menyatukan tiga elemen penting di RS Kandou: sistem pendidikan kedokteran yang profesional, pelayanan kesehatan yang optimal, serta manajemen rumah sakit yang transparan dan bertanggung jawab. Semua mata kini tertuju pada langkah awal sang Direktur Utama baru – apakah ia mampu membawa RS Kandou keluar dari krisis atau justru akan terjebak dalam labirin birokrasi dan masalah lama yang belum terselesaikan.

Editor : Jendri Frans Mamahit

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang menyalin artikel Rajaopera.com !!
×
×