Sejarah
Home » Berita » Dua Tokoh Ini Ternyata Pernah Menjabat Presiden Indonesia

Dua Tokoh Ini Ternyata Pernah Menjabat Presiden Indonesia

Berbicara tentang tokoh nasional yang pernah menjadi Presiden RI, masyarakat pasti akan menyebut nama Ir Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo.

Namun siapa sangka, ternyata ada dua tokoh lagi yang pernah menjabat jabatan tinggi negara tersebut, sebagaimana dikutip dari Okezone.

Syafruddin Prawiranegara

Tokoh yang satu ini memang tak begitu dikenal. Padahal dia berjasa besar dalam menjaga kedaulatan negara. Tepatnya saat Belanda melakukan agresi militer kedua pada 1948.

Ketika itu, tentara Belanda membombardir Yogyakarta dan Bukit tinggi, dan menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Dua tokoh bangsa ini kemudian diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka, 1948.

Di Penghujung 2025, Gubernur Akmil Gaungkan Semangat Jenderal Sudirman: Palagan Ambarawa Jadi Api Juang Taruna

Beruntung langkah Belanda itu telah diperhitungkan Mohammad Hatta, sehingga dengan cepat langsung memberi mandat kepada Syafruddin Prawiranegara yang lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911 itu untuk melanjutkan pemerintahan, agar tak terjadi kekosongan kekuasaan.

Bung Karno pun menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Syafruddin lewat mandat yang tidak pernah diterimanya. Mendengar berita tersebut, Syafruddin yang sedang berada di Bukit Tinggi berinisiatif mengambil alih kepemimpinan negara.

Pada 19 Desember 1948, Syafruddin bersama Gubernur Sumatera pada waktu itu, TM Hasan, memutuskan membentuk pemerintahan darurat, demi menyelamatkan Indonesia, yang pada saat itu dalam kondisi bahaya.

Atas usaha Pemerintah Darurat yang dipimpin Syafruddin, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Delapan bulan kemudian, tepatnya 13 Juli 1949, diadakan sidang antara PDRI dengan Soekarno dan Hatta serta sejumlah menteri kedua kabinet.

Soekarno dan kawan-kawan pun dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta, setelah Perjanjian Roem-Royen. Mandat dari PDRI pun dikembalikan secara resmi lewat acara serah terima yang terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.

Air Mata Tak Pernah Kering: Cinta Abadi Maria Elizabeth untuk Pahlawan Revolusi Pierre Tendean

Mr Assaat

Tokoh lain yang pernah menduduki kursi Presiden Indonesia adalah Mr Assaat, yang memimpin selama 9 bulan (27 Desember 1949-15 Agustus 1950).

Jika diperhatikan, jabatan Acting Presiden Republik Indonesia dipegang Mr Assaat dimulai setelah perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember 1949, dan berakhir dengan terbentuknya RIS (Republik Indonesia Serikat).

Saat menjabat Acting (Pelaksana Tugas) Presiden RI, Assaat menandatangani statuta pendirian Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Selanjutnya, pria kelahiran Sumatera Barat, 18 September 1904 itu menjadi anggota parlemen (DPR-RI), hingga duduk dalam Kabinet Natsir sebagai Menteri Dalam Negeri September 1950 sampai Maret 1951. Setelah itu, dia kembali menjadi anggota Parlemen.

Rutan Manado Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Pada tahun 1955, Mr Assaat menjabat Formatur Kabinet bersama Soekiman Wirjosandjojo dan Wilopo, dan mencalonkan Bung Hatta sebagai Perdana Menteri, atas dukungan daerah-daerah yang tidak puas terhadap beleid (kebijakan) pemerintahan Pusat. Tapi upaya tiga formatur tersebut menemui kegagalan, karena secara formal, ditolak oleh Parlemen.

(***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang menyalin artikel Rajaopera.com !!
×
×