RajaOpera, Manado — Perebutan kursi Ketua KONI Manado tiba-tiba berubah menjadi gelanggang pertarungan politik kelas berat. Munculnya nama dr. Richard Sualang sebagai kandidat kuat sontak mengguncang peta kekuasaan. Bukan sekadar Wakil Wali Kota Manado, Sualang adalah Ketua PDI-P Manado—figur simbolis yang selama ini menjadi ikon perlawanan politik di tingkat lokal.

Namun suasana langsung memanas ketika Calvin Castro, sosok muda yang dikenal dekat dengan lingkaran kekuasaan Gubernur Sulawesi Utara, ikut maju.

Kehadiran Calvin seketika mengubah kontestasi ini menjadi benturan dua poros besar:
Kota vs Provinsi,
PDI-P vs Gerindra,
Sualang vs bayang-bayang kekuasaan Gubernur.
Benturan Kekuasaan: Kota Melawan Dominasi Provinsi
Langkah politik Sualang tidak dianggap biasa. Publik melihatnya sebagai deklarasi perlawanan terbuka. Setelah kekalahan telak PDI-P pada Pilgub 2024, manuver Sualang di arena KONI terbaca sebagai upaya mengembalikan marwah “kekuatan merah” di Manado.
Melalui gelanggang olahraga, Sualang mengirim pesan keras: PDI-P Manado belum habis. PDI-P belum tunduk.
Di sisi lain, majunya Calvin Castro dibaca sebagai langkah strategis provinsi untuk mengukuhkan pengaruhnya hingga ke struktur organisasi kota. Kedekatannya dengan Gubernur membuat publik menilai bahwa Calvin bukan sekadar calon biasa—ia datang dengan “restu kekuasaan”.
Pertarungan ini pun meletup menjadi duel simbolik:
Sualang vs Pengaruh Gubernur.
Kota vs Provinsi.
Merah vs Putih
Para pengamat sepakat: pemilihan Ketua KONI Manado bukan lagi soal olahraga.
Ini adalah rematch politik, jilid dua dari drama Pilgub 2024 yang masih menyisakan bara.
Jika Sualang menang, itu adalah sinyal bahwa PDI-P masih punya napas panjang di Manado. Namun bila Calvin yang menang, dominasi provinsi akan meluas dan Gubernur mempertegas pengaruh penuh hingga ke simpul-simpul strategis kota.
KONI Manado yang biasanya tenang, kini berubah menjadi medan paling panas di Sulawesi Utara.
KONI Bergetar: Aroma Politik Menyengat
Manuver elite politik mulai terasa meski tanpa pernyataan resmi.
Basis pendukung bergerak.
Simbol kekuasaan bermain.
Isyarat konfrontasi kota–provinsi makin sulit disembunyikan.
KONI yang seharusnya berfokus pada pembinaan olahraga, kini menjadi panggung kekuatan, tempat dua arus besar mengukur siapa yang sebenarnya lebih berkuasa.
Sualang Resmi Mengangkat Sarung Tangan Dengan melangkah ke gelanggang KONI Manado, Sualang mengirim pesan jelas:
Ia tidak mundur. Ia menantang.
Dan tantangan itu diarahkan langsung ke orbit kekuasaan Gubernur.
KONI hanyalah panggung, tetapi yang dipertaruhkan jauh lebih besar:
Pengaruh Dominasi politik.
Harga diri dua poros kekuatan besar di Sulawesi Utara.
Pertarungan baru dimulai. Dan seluruh Manado kini menunggu siapa yang jatuh, siapa yang menang, dan siapa yang akan menguasai babak berikutnya.


Komentar