RajaOpera,Manado,–Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang sebagai salah satu mahakarya Presiden Prabowo Subianto, lahir dengan semangat luhur untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Cita-citanya begitu indah: meningkatkan gizi masyarakat, mengurangi stunting, mendorong prestasi pendidikan, hingga memutus mata rantai kemiskinan. Bahkan, untuk menopang program ini, negara berani menggelontorkan anggaran fantastis: Rp306,69 triliun dalam RAPBN 2025, dan melonjak jadi Rp335 triliun pada 2026.
Namun, antara harapan dan kenyataan sering kali terbentang jurang yang dalam.
Di atas kertas, pedoman BGN lewat Peraturan Nomor 3 Tahun 2024 tampak ideal. Tapi di lapangan, implementasinya kerap terjebak dalam keruwetan sosiologis dan benturan kultur masyarakat. Perbedaan interaksi sosial antara kota dan desa, kebiasaan lokal yang berakar dari leluhur, hingga resistensi budaya, membuat program tak semudah sekadar komando seorang jenderal.
Apalagi, tumpang tindih regulasi dan pembagian kewenangan menambah kompleksitas. PAUD hingga SMP berada di bawah kendali bupati/walikota, sementara SMA/SMK/SLB adalah urusan gubernur. Sedangkan pemerintah daerah sebatas penyedia data, membuat sinkronisasi pelaksanaan sering kali macet di tengah jalan.
Tak jarang, kepentingan sesaat para pelaksana lapangan justru mengaburkan prioritas negara yang seharusnya murni untuk anak bangsa. Alhasil, mimpi mulia MBG untuk menghadirkan generasi sehat, produktif, dan cerdas, sering kali kandas di meja birokrasi.
Program yang semula diyakini menjadi solusi emas bagi masalah gizi nasional, kini dipertanyakan: benarkah Rp300 triliun lebih yang digelontorkan negara benar-benar menyentuh perut anak-anak Indonesia? Atau justru menguap dalam hiruk-pikuk administrasi dan kepentingan politik sesaat?
Harapan besar Presiden jelas ada. Tapi tanpa sinergi nyata antara BGN, pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat, Makan Bergizi Gratis bisa saja berubah menjadi sekadar janji emas yang sulit dicerna oleh realita.
Goresan Pena FS


Komentar